Pasokan Gas Untuk Pabrik Pupuk Segera Diselesaikan

BANDA ACEH (Waspada) 17 Sep 03 ; 00:50 WIB. Persoalan harga pasokan gas untuk pabrik pupuk AAF dan PIM dari Exxon Mobil harus segera diselesaikan, sehingga kontrak pembelian gas bisa berjalan mulus. "Kalau tidak diselesaikan kita takut Exxon Mobil tidak bersedia memasok, karena bagi dia tidak mau rugi dan juga tidak mau laba yang lebih," kata Dr. Islahuddin kepada wartawan usai mengikuti rapat dengan Komisi C DPRD NAD, Selasa (16/9) di Banda Aceh.

Menurutnya, kontrak harus jelas dan berapa kerugian Exxon Mobil yang harus diganti oleh pemerintah. Karena kelihatannya ada subsidi harga yang diberikan pemerintah kepada pabrik pupuk, baik kepada pemasok gas dan pada penjualan harga pupuk. Dalam hal pemasokan gas ini, kata Islahuddin, pemerintah menghitung berapa kerugian Exxon karena memasokkan gas ke dalam negeri. "Ini jalan pertama yang harus cepat diselesaikan sehingga kontrak berjalan lancar," sebut anggota Tim Advokasi Gas ini.

Hal yang sama juga dikemukakan Ketua Komisi C DPRD NAD, Prof. Jamaluddin Ahmad bahwa yang menjadi penting ada kejelasan tentang kalkulasi ongkos oleh pabrik pupuk, terutama AAF dan juga PIM. "Berapa sih sebenarnya mereka bisa beli. Kita harapkan AAF dan PIM serta Exxon Mobil terbuka dalam masalah ini," cetusnya. Untuk itu, pihaknya ingin secepatnya persoalan pasokan gas kepada pabrik pupuk yang beroperasi di Aceh Utara tersebut ditangani. "Kita ingin ditangani setepatnya dan secepatnya, karena mempunyai dampak yang luas. Lebih-lebih di Aceh pengangguran begitu banyak apalagi terjadi pengangguran yang baru."

Komisi C sendiri, katanya, selain melapor kepada pimpinan DPRD juga akan berbicara dengan pemerintah daerah serta PDMD. Sementara itu juga melakukan kontak dengan semua pihak untuk ada kejelasan tentang ongkos-ongkos ini. "Kita telusuri secara tepat lalu kita sampaikan kepada pengambil keputusan dipemerintah ini, Menteri BUMN dan lembaga keuangan yang kesemuanya di bawah Menko Ekuin," cetus Jamaluddin. Pihaknya, sebut Jamaluddin, belum mengetahui persis berapa harga yang diinginkan dan mampu dibeli oleh kedua pabrik pupuk yang bahan baku dan penggeraknya menggunakan gas itu. "Sepertinya pada kenaikan jumlah tertentu masih bisa terutama dari PIM, sementara AAF masih bertahan pada harga lama," ungkapnya.

Sebagaimana diinformasikan, sejak 5 Agustus 2003 lalu PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) menghentikan operasionalnya akibat dihentikannya pasokan gas dari Exxon Mobil. Hal yang sama juga mengancam PT Pupuk Iskandar Muda, meski masih beroperasi tapi harga pasokan gasnya tidak sesuai dengan nilai kontrak. Puluhan Ribu Warga Dan Karyawan Trauma Di Krueng Geukueh, akibat terhentinya pasokan ke dua pabrik ini, puluhan ribu warga lingkungan sekitar pabrik dan 713 orang karyawannya serta 450 karyawan pihak ketiga di perusahaan itu mengalami trauma.

Peristiwa serupa ini merupakan yang kedua kalinya, pertama terjadi pada tanggal 9 Mei 2001 hingga akhir Desember 2001, yang merupakan kegiatan operasional produksi pupuk PT.AAF terhenti total, menyusul distopnya pasokan gas alam dari ladang gas Aron. Tokoh muda di Dewantara, Sumardi kepada Waspada, Selasa (16/9) pasokan bahan baku gas ke PT.AAF yang merupakan industri pupuk patungan lima Negara sahabat ASEAN sejak 29 Juli 2003 telah membuat keresahan puluhan ribu warga masyarakat lingkungan dari 15 Desa dalam wilayah. Apalagi suplay listrik ke rumah-rumah penduduk yang sebelumnya dialirkan arusnya dari perusahaan itu. Ironisnya lagi, belum termasuk ribuan masyarakat lingkungan harian kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian mereka akibat mati totalnya listrik tersebut. "Karena belum ada kepastian kapan pabrik tersebut bisa beroperasi secara normal kini telah beredar pula isu bahwa para karyawan akan di PHK dalam waktu dekat ini. Hal itulah yang membuat kami resah," kata beberapa karyawan PT. AAF yang ditemui Waspada di perusahan tersebut kemarin.

Sekretaris perusahaan (Sekper), Ir. H.Amrul AS yang dihubungi Waspada, Selasa (16/9) di ruangan kerjanya, membantah isu PT AAF akan mem-PHKkan 713 karyawannya. Malah, menurut Amrul pada awal Oktober 2003 mendatang PT. AAF sudah memproduksi kembali dan Pertamina melalui EMOI akan menyuplai bahan baku gas alam seperti biasa ke PT. AAF. Masalah terhentinya suplay gas saat ini bukan hanya saja untuk perusahaan PT.AAF, tapi beberapa pabrik pupuk lainnya mengalami hal yang sama. Memang diakuinya membuat trauma para karyawan, karena satu satunya pabrik pupuk patungan lima negara sahabat ASEAN yang berada di daerah ini. Kata Amrul beroperasinya kembali PT.AAF pada awal bulan depan merupakan upaya maksimal Dewas Direksi dan Dewan Komisaris yang telah melobi instansi terkait dalam dua bulan terakhir ini apalagi usaha dewan Direksi PT.AAF itu mendapat dukungan penuh Gubernur NAD, Abdullah Puteh, dan Pangdam Iskandar Muda selaku Penguasa Darurat Militer (PDMD) di daerah ini, ujarnya pula.(b06/b14/cdin) sn