Pasokan Gas tak Sesuai Kontrak. PIM Juga Terancam.

LHOKSEUMAWE (Serambi Indonesia, 16 September 2003) - Meski tak separah yang dihadapi PT AAF, namun krisis gas juga dialami PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). “Alhamdulillah, karena adanya desakan pemerintah melalui Menko Ekuin, Menperindag, Pertamina dan instansi terkait lainnya, pasokan gas untuk PIM masih berjalan meski tak sesuai kontrak," kata Kepala Biro Humas PT PIM. T. Fachrulsyah.

Menjawab Serambi melalui pernyataan tertulisnya, Senin (15/9), Fachrulsyah menjelaskan, kebutuhan gas PIM I secara normal sesuai kontrak sebanyak 63 MMSCFD (milion matrik standard cubic feet per day) dengan nilai panas (GHV) = 1.000 BTU per SCFD. Hingga saat ini pasokan gas yang diterima PIM dari Exxon MOl masih terbatas, yaitu sebanyak 63 MMSCFD dengan nilai panas (GHV) = 850 BTU per SCFD. Itu berarti PIM baru menerima 90 persen gas dari yang dibutuhkan. Dari jumlah itu, harus digunakan 10 persen untuk commisioning start up PIM II agar bisa berproduksi sesuai rencana pada November 2003. Akibat terbatasnya pasokan gas tersebut, produksi urea PT PIM hanya bisa mencapai 55 persen dari produksi yang ditargetkan yaitu 1.750 ton/hari atau sekitar 570.000 ton/tahun. Jika kondisi pasokan gas dari Exxon terus berlanjut seperti saat ini, menurut Fachrulsyah akan berakibat tak bisa terpenuhi kebutuhan pasar Sumut dan Provinsi NAD yang berkisar antara 450.000 sampai 475.000 ton/tahun.

Ditanya berapa harga gas yang dibeli PT PlM. menurut Fachrulsyah, sesuai kontrak untuk PIM I masih USD 1 /MmBTU. "Kita belum tahu ke depan nanti," ujarnya. Meski diakuinya belum berdampak serius terhadap aktivitas pabrik, tetapi jika pasokan gas yang tak sesuai jatah kontrak itu berlanjut akan mengancam tingkat produksi PIM.

Agar produksi PT PIM bisa berlangsung sesuai target, sekaligus mampu memenuhi kebutuhan pasar Sumut dan NAD, manajemen PIM sangat berharap agar jatah kontrak sebanyak 63 MMSCFD dengan nilai panas 1000 BTU per SCFD akan normal seterusnya. Syukur Alhamdulillah jika dibandingkan dengan PT AAF, PT PIM masih mendapatkan pasokan gas dari Exxon MOI, walaupun pemberian gas tersebut tidak terlepas dari desakan pemerintah melalui Menko Ekuin, Menperindag, Pertamina dan instansi terkait lainnya yang cukup membantu,” demikian Kepala Biro Humas PT PIM.

Sementara itu, Senin kemarin harian ini melansir laporan yang disampaikan Marwan Yahya, salah seorang pemimpin Serikat Pekerja di AAF, tentang terhentinya operasional produksi PT Asean Aceh Fertilizer (AAF) terhitung sejak 5 Agustus 2003 menyusul distopnya pasokan gas dari Ladang Arun oleh pihak Exxon Mobil. Akibatnya, sekitar 1.700 karyawan tetap/lepas dan musiman yang selama ini menggantungkan hidup dari perusahaan itu menjadi resah. “Nasib kami tak jelas, karena pekerjaan juga tak ada. Selain itu tak ada kejelasan kapan gas akan dipasok,” ungkap Narwan Yahya.(nas)