Pupuk Bersubsidi Kembali Langka

Serambi Indonesia : 25 Agustus 2018

BLANGPIDIE - Para petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) kembali resah dengan peristiwa kelangkaan pupuk bersubsidi di kios-kios pengecer setempat. Sedangkan tanaman padi Musim Tanam (MT) Gadu 2018 yang berumur satu bulan lebih sangat butuh pemupukan sehingga pertumbuhan tidak terganggu.

Sementara persediaan pupuk bersubsidi (NPK Phonska, Urea, SP-36 dan ZA) langka di kios-kios pengecer setempat.

“Pupuk Bersubsidi jenis NPK Phonska dan Urea sangat sulit diperoleh karena tak ada stok di kios-kios pengecer,” kata Suryadi, petani Desa Asoe Nanggroe, Kecamatan Blangpidie kepada Serambi, Jumat (24/8).

Kelangkaan pupuk bersubsidi terjadi sejak lima hari lalu, kalaupun ada hanya pupuk Urea dalam jumlah sangat terbatas yang dijual secara eceran (per kilogram) di sejumlah kios pengencer di Blangpidie. Petani terpaksa membeli pupuk non subsidi dengan harga tinggi.

Safrizal, petani Desa Padang Baru, Kecamatan Susoh juga menjelaskan, petani sangat membutuhkan pupuk NPK Phonska dan Urea bersubsidi, namun tidak ada stok di kios-kios pengecer setempat. Tapi, petani setempat sedikit terbantu dengan pupuk bantuan desa setempat.

Beberapa petani setempat juga telah melakukan antisipasi sejak awal dengan membeli pupuk bersubsidi pasca panen lalu. Diakui, banyak petani di Kecamatan Susoh kewalahan mendapat pupuk bersubsidi yang dibutuhkan akibat tidak ada stok di kios pengecer.

Pantauan Serambi, Jumat kemarin, stok pupuk bersubsidi, jenis NPK Phonska, SP-36, ZA dan Urea sulit ditemukan di kios-kios pengecer resmi kawasan Pasar Blangpidie.

“Pupuk bersubsidi NPK terakhir masuk 20 Agustus lalu sebanyak 8 ton, dan langsung diserbu petani sampai habis,” kata seorang pemilik kios pengecer resmi di Jalan H Ilyas, Blangpidie. Dijelaskan bahwa permintaan pupuk bersubsidi dari petani sangat tinggi untuk pemupukan padi yang berumur sekitar satu bulan lebih.

Informasi diperoleh Serambi PT Meuligoe Raya merupakan distributor pupuk NPK Phonska, ZA dan SP-

36 untuk tiga kecamatan, Setia, Manggeng dan Lembah Sabil. Sedangkan distributor pupuk bersubsidi jenis yang sama untuk enam kecamatan lainnya (Babahrot, Kuala Batee, Jeumpa, Susoh, Blangpidie dan Tangan-Tangan) adalah PT Pertani (Persero).

Tak Sesuai Kebutuhan
Sementara itu data yang diperoleh Serambi dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Abdya pada awal tahun ini bahwa sesuai daftar alokasi pupuk bersubsidi tahun 2018, terdiri atas Urea 2.144 ton, SP-36 495 ton, ZA 635 ton, NPK Phonska 1.898 ton dan Organik 1.100 ton.

Alokasi tersebut tidak sesuai kebutuhan ril petani atau hanya mampu memenuhi sebagian kebutuhan dua kali tanam (MT rendengan dan MT Gadu) 2018 dengan luas tanam 10.267 ha dan total luas untuk dua kali tanam mencapai 20.534 ha.

Kebutuhan pupuk Urea untuk 1 ha areal sawah sebanyak 200 kg, sehingga untuk lahan seluas 20.534 ha butuh pupuk sebanyak 4.106 ton (untuk dua kali tanam). Sedangkan alokasi pupuk Urea hanya sebanyak 2.144 ton, maka terjadi kekurangan mencapai 1.962 ton.

Demikian juga pupuk bersubsidi jenis SP-36 setiap 1 ha tanaman padi membutuhkan 100 kg sehingga untuk areal tanam seluas 20.534 ha (2 kali tanam setahun) menyerap pupuk 2.034 ton. Sedangkan alokasi pupuk SP-36 sebanyak 495 ton, sehingga kekurangan 1.539 ton.

Demikian juga pupuk NPK Phonska untuk 1 ha areal sawah diperlukan pupuk urea sekitar 100 kg, maka areal seluas 20.534 ha (dua kali musim tanam) butuh pupuk NPK Ponskha 2.034 ton Sementara alokasi 1.898 ton, sehingga terjadi kekurangan 136 ton.

Sedangkan pupuk bersubsidi jenis ZA sebagai pupuk pengganti untuk 1 ha lahan sawah dibutuhkan paling sedikit 50 kg, maka menerap 1.026 ton. Sedangkan alokasi yang tersedia 635 ton, sehingga masih kurang 391 ton untuk dua kali tanah setahun.

 

http://aceh.tribunnews.com/2018/08/25/pupuk-bersubsidi-kembali-langka